Minggu, 09 Agustus 2020 :

WebGIS SISTEM INFORMASI PENGELOLAAN TAMBAK- “SIPETAK”



img

          Hasil kegiatan riset mengenai aplikasi informasi dan analisis geospasial di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) dalam 10 tahun terakhir menemukan adanya berbagai kendala teknis pengelolaan tambak di sentra pengembangan udang di Indonesia. Kendala teknis tersebut antara lain berupa syarat rekayasa tambak seperti desain saluran dan layout tambak yang kurang efektif sehingga menyulitkan pengelolaan lahan dan pada akhirnya berpengaruh pada kualitas air.  “Proses bimbingan teknis peningkatan produktivitas lahan budidaya juga masih bersifat parsial dan cenderung tidak terkoordinasi sehingga kelebihan dan kekurangan dari teknologi yang diterapkan juga hanya dapat diketahui oleh kelompok-kelompok petambak tertentu.  Permasalahan teknis dan non-teknis di dalam suatu kawasan budidaya seharusnya dapat diketahui dan dipikirkan penyelesaiaannya oleh banyak pihak untuk mendapatkan solusi yang terbaik.  Upaya desain metode penyebarluasan informasi yang murah dan mudah untuk diakses dan dievaluasi oleh pemangku kebijakan seperti Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Tata Ruang, Kemeterian Kelautan dan Perikanan, pengusaha atau LSM perlu segera dilakukan agar dapat diperoleh umpan balik (feedbacks) untuk penanganannya.  

          Pada tahun 2018, tim peneliti sumberdaya daya lahan dan lingkungan budidaya BRPBAP3 Maros mengembangkan Prototipe Teknologi WebGIS yang merupakan pengembangan sistem informasi geografis (SIG atau GIS) yang berbasis internet  yang dinamakan Sistem Informasi Pengelolaan Tambak disingkat SIPETAK.  WebGIS Sipetak dapat diakses pada alamat URL http://sipetak.brpbap3maros.com/, atau dengan memasukan kata kunci “sipetak” di penelusuran google.  Sebagaimana tujuannya prototipe webgis ini dimaksudkan untuk memudahkan visualisasi dan interpretasi untuk menjamin efektivitas penetapan kebijakan pengelolaan dan pengembangan budidaya tambak.  Informasi yang ditampilkan adalah karakteristik rinci faktor pembatas lingkungan budidaya tambak. Juga dilengkapi dengan informasi turunan sesuai dengan kebutuhan manajemen tambak utamanya untuk mengantisipasi keberadaan faktor pembatas lingkungan.  Variabel turunan tersebut antara lain dapat berupa informasi kebutuhan sarana produksi (kapur dan pupuk) termasuk ketersediaannya di kawasan tambak. Disamping informasi teknis budidaya, juga terdapat informasi kepemilikan tambak yang sangat penting dalam pengelolaan lahan budidaya karena suatu kawasan tambak  bukan hanya sekedar gabungan kelompok unit (petakan) budidaya (aspek biofisik lahan),  tetapi juga  kelompok-kelompok sosial dalam bentuk kelompok-kelompok pelaku utama dan pelaku usaha budidaya yang akan mengelola dan bergantung pada keberhasilan kegiatan tersebut. 

          Prototipe WebGIS Sipetak terdiri atas tiga bagian utama yakni halaman publik, halaman admin dan halaman surveyor. Halaman publik (halaman utama) ini berfungsi untuk menampilkan peta dan informasi non-spasial kepada publik user.  Terdapat fitur peta standar  sebagaimana webgis lainnya seperti zoom in/out/full screen, ukur jarak, ukur luas, info peta, legenda, dan alamat dan nomor kontak admin utama. Pada tahap awal tim peneliti telah menguji coba pemanfaatan aplikasi SIPETAK dengan menggunakan data vektor petakan tambak (peta layout tambak) serta data kualitas lingkungan hasil penelitian sebelumnya di Kecamatan Suppa Kabupaten pinrang.  Dari hasil uji coba tersebut diketahui Luas total tambak di Kecamatan Suppa sebesar ± 14.000 ha dan meliputi sekitar 2.700 unit petakan tambak. Luas masing-masing unit petakan tambak berserta pemiliknya dapat langsung diketahui dengan mengklik poligon petakan tambak.  Hasil analisis tersebut tidak jauh berbeda dengan data statistik luas lahan untuk budidaya air payau sebagaimana yang tertuang dalam data resmi pemerintah daerah Kabupaten Pinrang sebesar 1.378,78 ha.  Untuk lokasi yang belum memiliki data vektor petakan maka informasi luas dan panjang pematang atau saluran dapat dihitung memanfaatkan fasilitas “measurement” dengan mengklik sepanjang sisi tambak atau saluran. 

          Selain informasi petakan tambak, melalui aplikasi interface (Google Maps API), WebGIS ini juga menampilkan peta globe virtual gratis dan online yang didukung oleh citra satelit resolusi tinggi sehingga dapat menunjukkan tipe penggunaan lahan di sekitar tambak yang terdiri dari pemukiman, kebun campuran dan sawah (Gambar 2). Informasi penggunaan lahan disekitar tambak eksisting sangat berguna untuk memprediksi potensi pengembangan termasuk risiko dari dampak yang kemungkinan timbul akibat kegiatan budidaya terhadap penggunaan lahan lainnya. WebGIS SIPETAK juga menyediakan informasi jaringan saluran tambak dan sungai. Setiap saluran tambak dapat diberikan kode atau nama untuk kebutuhan pengelolaan seperti revitalisasi saluran dan manajemen kualitas air.

          Informasi petakan, luas dan karakteristik tambak tersebut setelah dikombinasikan dengan berbagai data attribut pengelolaan lahan tambak menjadi suatu database spasial kawasan budidaya tambak hingga skala unit petakan sebagaimana pada Gambar 3.  Informasi pemilik lahan, kualitas lingkungan, kebutuhan sarana produksi (kapur/pupuk) dan status produksi seperti ini sangat bermanfaat untuk pengelolaan tambak secara individu dan jika dikelompokan menjadi kluster tambak menjadi informasi penting pada level pengambil kebijakan yang lebih tinggi. “Kualitas tanah yang ditampilkan lebih khusus  pada kualitas tanah dasar tambak, karena  karakteristik kimia dan fisik tanah membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berubah, sehingga sangat baik jika dijadikan sebagai variabel kunci kualitas lahan untuk kegiatan budidaya tambak. 

          Selain informasi kualitas lingkungan tambak, WebGIS SIPETAK ini juga dapat memberikan informasi mengenai ketersediaan infrastruktur tambak.  Jaringan listrik, jaringan jalan beraspal (utama), jalan tani  (farm road), telekomunikasi, Balai Benih Udang (BBU) dan Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT) (Gambar 4).  Ketersediaan infrastruktur pendukung tersebut dapat memperlacar kegiatan budidaya seperti pengangkutan sarana produksi tambak (SAPROTAM) seperti benih, pupuk, kapur dan pakan serta dapat memperlancar pemasaran hasil panen.

          Dari WebGIS SIPETAK ini juga dapat diturunkan informasi penting lain seperti pelaksanaan bimbingan teknis (jenis dan distribusi) dan sistem pengelolaan yang tepat sesuai faktor pembatas lingkungan untuk masing-masing klaster tambak. Selain secara teknis bermanfaat dalam efisiensi dan efektivitas pengelolaan lahan budidaya tambak, WebGIS SIPETAK ini juga sangat relevan untuk mendukung Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) khususnya Perikanan Budidaya dalam memasuki era revolusi industry 4.0 antara lain dalam hal “pemanfaatkan untuk mendapatkan informasi ketersediaan benih unggul, pakan, sarana dan prasarana produksi serta”. Terobosan yang tidak kalah pentingnya dari aplikasi GIS berbasis internet ini adalah memungkinkan partisipasi berbagai stakeholders budidaya seperti penyuluh, pembudidaya, staf dinas perikanan atau LSM untuk mengupdate informasi ke dalam sistem aplikasi melalui fitur “surveyor” tentunya melalui verifikasi administrator utama untuk menjamin validasi data.

            WebGIS SIPETAK dilaunching untuk pertama kalinya pada tanggal 09 November 2018 di Kabupaten Pinrang provinsi Sulawesi Selatan (Gambar 5A).  Selanjutnya disosialisasikan ke penyuluh perikanan 3 provinsi (Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara) lewat media sosial dan pertemuan langsung (Gambar 5B).  Demonstrasi cara aplikasi juga secara khusus telah dilaksanakan di Kantor Dinas Perikanan Kota Kendari yang diikuti perwakilan penyuluh perikanan dari 13 kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara.  Hasil wawancara langsung setelah kegiatan diseminasi dan melalui media sosial menunjukan apresiasi yang tinggi tentang fungsi dan manfaat dengan keberadaan WebGIS SIPETAK untuk membantu pengelolaan kegiatan budidaya pada skala petakan dan hamparan.  Saat ini WebGIS ini sedang dikembangkan untuk aplikasi evaluasi pelaksanaan Cara Budidaya Ikan yang Lebih Baik (CBIB), di Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan. Tim  Sustainable Landscape & Livelihood (SLL) yang merupakan unit dari LSM internasional Center for International Forestry Research (CIFOR) telah menghubungi admin utama untuk melakukan kerjasama pemanfaatan Sipetak untuk kajian lanskap terkait dengan  ekosistem Mangrove dan akuakultur di Indonesia. Pengembangan lebih lanjut diupayakan dengan mengintegrasikan aplikasi mobile android untuk memudahkan user dalam update data dengan tujuan memperkaya data dan mendapatkan informasi real time.


img

Karakteristik Tambak Tradisional di Sulawesi Selatan