Minggu, 09 Agustus 2020 :

Tingkat Kelangsungan Hidup Windu Masih Rendah di Zona Prioritas Kebangkitan Udang, Provinsi Sulawesi Selatan



img

Pada era tahun 1980-an hingga awal 1990 udang windu (Penaeus monodon) merupakan komoditas utama air payau yang memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan pendapatan asli daerah di Sulawesi Selatan. Namun demikian terus dilaporkan mengalami penurunan dari tahun-ke tahun.  Meskipun produksi total di Sulawesi Selatan masih mencapai 40.346 ton pada tahun 2015, akan tetapi udang windu bukan lagi sebagai komponen utama, tetapi karena adanya tambahan dari budidaya udang vaname (Penaeus vannamei) udang introduksi dari Amerika Selatan yang dianggap memiliki daya tahan lebih tinggi dari serangan penyakit. Keberadaan udang windu secara nasional harus dipertahankan karena selain memiliki nilai ekonomis, juga nilai ekologis penting karena merupakan udang endemik dan pembentuk keragaman plasma nutfah Indonesia. Untuk Sulawesi Selatan terdapat 18 kabupaten/kota yang menghasilkan udang windu, lima yang terbesar yakni Pinrang, Pangkep, Wajo, Bone, dan Maros (Dinas Perikanan dan Kelautan Sulawesi Selatan, 2019).

Kabupaten Pinrang terpilih sebagai salah satu lokasi prioritas untuk kebangkitan udang khususnya dari hasil budidaya karena produksi udang windu selalu meningkat dan produktivitasnya terus bertahan (Pemkab-Pinrang, 2018).  Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pinrang (2016) produksi udang windu tersebut berasal dari lahan seluas 15.675 ha yang tersebar di lima kecamatan Suppa (2.203 ha), Lasinrang (1.560 ha), Mattirosompe (4.131 ha), Cempa (2.341 ha), Duampanua (5.101 ha), dan Lembang (339 ha). Anehnya, meskipun Duampanua dan Mattirosompe memiliki lahan yang lebih luas, produksi udang windu terbesar berdasarkan luas lahan justru berada di Kec. Suppa, yang mana dalam setiap hektar rata-rata memproduksi 0,30 ton/hektar/tahun. Berdasarkan data DKP Kab.Pinrang 2016, produksi udang windu di Kec. Duampanua memproduksi 0,15 ton/hektar/tahun dan Mattirosompe mencapai 0,19 ton/ha/tahun dengan kisaran rata-rata survival rate (SR) atau tingkat kelangsungan hidup hanya 15-17%, dengan asumsi bahwa jumlah tebar dalam satu tahun adalah 40.000 ekor individu per hektar dan rata-rata ukuran panen adalah 35 ekor/kg.

Nilai SR selain merupakan indikator produksi juga dapat merefleksi dengan baik upaya atau tingkat pencegahan penyakit dalam kegiatan budidaya karena SR sangat tergantung pada faktor-faktor yang berpengaruh pada pengelolaan budidaya seperti kualitas air, pakan, ukuran tambak, padat tebar, dan pengelolaan sedimen dasar.  Lembaga sertifikasi independent seperti Aquaculture Stewardship Council (ASC) (2014) mensyaratkan SR > 25% untuk tambak yang dikelola secara tradisional (tidak diberi pakan dan dan tanpa bantuan aerasi).  Hasil kajian literatur nilai SR udang windu dengan sistem budidaya tambak tradisional di Kabupaten Pinrang berdasarkan  hasil penelitian tahun 2007-2011 menunjukkan nilai SR yang rendah yakni dibawah 25% dengan kisaran 7,27-19,13%. Secara umum rendahnya nilai SR dalam 2 (dua) dekade terakhir udang windu di Kabupaten Pinrang diduga karena faktor lingkungan dan akibat pola pengelolaan yang mengabaikan prinsip-prinsip budidaya yang bertangung jawab.  Lahan tambak yang ada umumnya dibangun dengan tidak mempertimbangkan kesesuaian lokasi, pola tanam yang terganggu karena adanya perubahan iklim seperti terjadinya kekeringan yang panjang akibat fenomena iklim El Nino, atau sebaliknya banjir pada saat puncak musim hujan.  Selama ini sebagian wilayah juga masih menggunakan bibit udang dengan kualitas rendah. Nilai SR udang windu pada beberapa waktu terakhir sangat rendah terutama karena serangan penyakit terutama White Spot Syndrome Virus (WSSV) dan  Vibrio harveyi.  Nilai SR diatas 25% hanya dilaporkan pada kluster-kluster tambak tertentu di Kecamatan Suppa dan terutama pada tambak sistem monokultur setelah mengaplikasikan pakan hidup alam phronima suppa dengan kisaran SR 33,94-61,54%.  Nilai SR pada tambak yang sama tanpa aplikasi phronima suppa hanya rata-rata 17,20% (Majid, 2016).  Pada kawasan tambak yang berdekatan dengan  lokasi uji coba phronima, aplikasi probiotik RICA hasil riset Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyululuhan Perikanan (BRPBAP3), juga mampu meningkatkan SR dari sebelumnya rata-rata SR : 7,27% menjadi 14,88% (Rangka & Madeali, 2011; Rangka & Mangampa, 2012).  Bakteri probiotik diyakini mempunyai kemampuan dalam menekan jumlah bakteri Vibrio spp, kandungan Total Ammonium Nitrogen (TAN) dan Nitrit-Nitrogen air tambak.  Hal ini memberikan harapan baru bahwa nilai SR udang windu masih dapat ditingkatkan jika dilakukan inovasi dan pengelolaan lahan budidaya yang tepat.

Untuk mengembalikan kejayaan udang windu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti WWF (World Wildlife Fund) terus mendorong penerapan prinsip-prinsip pengelolaan akuakultur  berkelanjutan (sustainable aquaculture), antara lain melalui cara budidaya ikan yang baik (CBIB) dan akuakultur  berbasis ekosistem (Ecosystem Approach to Aquaculture-EAA). Secara lokal sejak tahun 2008 Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memprakarsai "Gerakan Kebangkitan Udang”.  Kegiatan untuk mendukung pengelolaan akuakultur berkelanjutan antara lain dibangunnya broodstock center khusus udang windu di BBPBAP Jepara dan BPBAP Takalar dengan tujuan menghasilkan induk-induk unggul dan SPF (Spesific Pathogen Free)", dan informasi dari Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, pada tahun ini (2019) direncanakan membagi sekitar 40 juta benih udang windu pada 24 Kab/Kota di Sulsel dan kawasan timur Indonesia. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Dr. Ir Slamet Soebjakto. M.Si menyatakan induk dan benih yang bebas penyakit menjadi syarat mutlak bagi keberhasilan budidaya udang windu. Di Kabupaten Pinrang,  Dinas Perikanan dan WWF dengan menggandeng PT. Bomar sebagai eksportir udang windu, telah menginisiasi percontohan yang diharapkan nantinya menjadi rujukan bagi penerapan EAA di seluruh Indonesia. WWF-Indonesia sejak pertengahan 2013 telah melibatkan diri dalam program perbaikan budi daya (Aquaculture Improvement Program – AIP) udang windu di Kabupaten Pinrang dengan melakukan koordinasi secara intensif dengan para tokoh budidaya udang di Kecamatan. Pada bulan Februari 2019 bertempat di Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang, PT. Atina (Alter Trade Indonesia) perusahaan yang bergerak di bidang produksi dan pengelolaan udang beku  bekerjasama dengan Asian Seafood Improvement Collaborative (ASIC) yaitu kolaborasi regional yang sedang berkembang antara pemangku kepentigan sektor swasta dari Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam mengadakan sosialisasi budidaya udang windu berkelanjutan dengan membandingkan standar ASIC, CBIB dan Ecoshrimp.

 


img